Lagu “Untuk Kau Hargai” yang dibawakan oleh Anggis Devaki serta diciptakan oleh Bagas Ran mengeksplorasi batas psikologis seseorang dalam menghadapi asimetri komitmen pada sebuah hubungan asmara. Secara filosofis, karya dirilis lewat label HITS Records ini bukan sekadar mengekspresikan kekecewaan akibat penolakan, melainkan menyoroti momentum transisi kesadaran (self-awareness) individu dari fase pengorbanan yang sia-sia menuju pemulihan harga diri. Latar belakang narasi lagunya berfokus pada titik jenuh seseorang yang menyadari bahwa upaya mempertahankan hubungan secara sepihak tidak lagi rasional jika hak mendasarnya untuk dihargai terus diabaikan oleh pasangan. Melalui aransemen dan lirik yang lugas, komposisi ini merekam ketegasan emosional untuk berhenti mengalah, yang sekaligus menegaskan prinsip bahwa cinta yang sehat menuntut adanya timbal balik serta pengakuan yang setara dari kedua belah pihak.
Pantaskah aku terima Pantaskah aku dapatkan semua ini Sering ku berkaca Dan berkata kurang apa aku
Ya aku tak sempurna Tapi setidaknya aku telah mencoba Sekuat tenaga menahan derita Agar kita masih bisa bersama
Kau minta aku untuk mengalah Saat aku yang terluka Sedangkan kau tak pernah Sekali pun mengerti hatiku Sehancur ini aku kau buat Tak tega kau melihatnya Kasih ku juga manusia Yang punya hati Yang punya rasa untuk kau hargai
Sekuat tenaga menahan derita Agar kita masih bisa bersama Setengah mati aku bertahan Hampir gila aku menahan semua Sikapmu yang selalu Tak pernah peduli Kau minta aku untuk mengalah Saat aku yang terluka Sedangkan kau tak pernah Sekali pun mengerti hatiku Sehancur ini aku kau buat Tak tega kau melihatnya Kasih ku juga manusia Yang punya hati Yang punya rasa
Hoo saat aku yang terluka Sedangkan kau tak pernah Sekali pun mengerti hatiku Sehancur ini aku kau buat Tak tega kau melihatnya Kasih ku juga manusia Yang punya hati Yang punya rasa Yang punya hati tuk kau hargai Bukan tuk kau luka