Karya musik “Puspita Nala” yang digubah oleh Akbar Handoko membawa narasi filosofis mendalam mengenai esensi cinta, harmoni batin, dan dinamika spiritual manusia. Mengacu pada akar bahasanya, “puspita” melambangkan bunga atau keindahan yang mekar, sedangkan “nala” dalam bahasa Jawa kuno atau Sanskerta merujuk pada hati, jantung, atau pusat kesadaran emosional. Melalui jalinan aransemen yang berakar pada karakteristik musik lokal, lagu ini mengeksplorasi proses mekanis bagaimana rasa kagum dan kasih sayang tumbuh, merawat kedamaian internal, sekaligus menghadapi dualitas rasa dalam hubungan antarmanusia. Pendekatan liriknya yang kontemplatif memosisikan keindahan bukan sekadar objek visual yang fana, melainkan sebuah energi transformatif yang mampu menggerakkan rasa empati serta memperhalus budi pekerti pendengarnya.
Wanodya ayu utama Ngambar arum ing kusuma Mulat leng leng brangta Agawe sengseming nala
Esemu lir pait madu Lindri lindri nyawang netramu Dhasar lencir kuning Anggugah rasa tresnaku
Ngambar arum tan kuciwa Katon Memanise Sekar mekar lan melathi rinonce Katon ginelung Dak kanthi aneng jagad katresnan
Tiada yang lebih indah Tiada yang lebih rindu Selain hatiku andai engkau tahu
Rembulan kang sumunar Nyekseni tresna kang tuhu Tan ana mung sira wong ayu
Ngambar arum tan kuciwa Katon Memanise Sekar mekar lan melathi rinonce Katon ginelung Dak kanthi aneng jagad katresnan
Tiada yang lebih indah Tiada yang lebih rindu Selain hatiku andai engkau tahu
Rembulan kang sumunar Nyekseni tresna kang tuhu Tan ana liyo mung sira wong ayu
Baca Juga: Lirik Lagu Ajeng Febria - Ibu Bilang Pakai Ini Dulu