Karya musik berbahasa daerah Osing berjudul Wurung ciptaan Koming yang dibawakan kembali oleh Fira Azzahra bersama orkes Melayu Adella membawa narasi realisme sosial mengenai kegagalan rencana pernikahan yang sudah matang akibat intervensi masa lalu. Secara filosofis, metafora “ibarat kari muluke, ketampel dadi nyang wurunge” (bagaikan suapan nasi yang tertepis sebelum masuk ke mulut) menggambarkan ketidakberdayaan manusia di hadapan takdir penolakan, sekaligus menyoroti kerapuhan komitmen interpersonal ketika dihadapkan pada bayang-bayang cinta lama. Latar belakang cerita dalam lirik ini menitikberatkan pada pergeseran beban psikologis tokoh utama; fokus kepedihan bukan lagi terletak pada kehilangan pasangan (perpisahan), melainkan pada hancurnya harga diri sosial (wirange nutupi rai) di tengah komunitas masyarakat yang telah mengetahui rencana hajatan tersebut. Melalui aransemen koplo yang kontras dengan kedalaman liriknya, lagu ini menyajikan kritik tajam terhadap fenomena sosial mengenai sanksi sosial tidak tertulis dan beban moral yang harus ditanggung oleh korban kegagalan pernikahan di lingkungan masyarakat urban maupun perdesaan.
Lirik Fira Azzahra Adella - Wurung
Syarate nono hang kurang Wis jangkep dicawis cawisi Kari mung sak jangkahan maning Riko ojo disanding
Ibarat kari muluke Ketampel dadi lan wurunge Kepilu demenane bengen Riko ditinggal menyang
Kabehe moto wis podo weruh Kabehe kuping wis podo rungu Duduk pisahe hang digetuni Tapi wirange nutupi rai
Godonge jati tebluk nong lurung Wis arep rabi pungkase wurung