Karya musik “Dirantai Digelangi Rindu” yang dibawakan kembali oleh Laila Ayu bersama Rizal Pahlevi merupakan gubahan melankolis ciptaan Man Toba, Rosli Khamis, dan Abd Hamid Adenan yang secara filosofis mengeksplorasi dualitas antara keterikatan emosional dan kerelaan hati. Berdasarkan narasi liriknya, lagu ini menggambarkan latar belakang psikologis seseorang yang terjebak dalam penantian cemas akan kehadiran kekasih, di mana metafora “dirantai” dan “digelangi” merepresentasikan rasa rindu yang mengikat kuat kebebasan batin sang tokoh. Di balik jerat emosi tersebut, tersimpan esensi filosofis mendalam mengenai pengorbanan dan pemaafan yang mutlak; sang subjek bersedia mengabaikan kesalahan masa lalu dan menanggung luka batin (“berparut seribu”) demi memulihkan penderitaan serta memuluskan rekonsiliasi hubungan yang sempat retak. Secara objektif, komposisi ini bukan sekadar ratapan melow romantis, melainkan sebuah manifestasi komitmen emosional yang menempatkan ketulusan di atas ego pribadi.
Lirik Dirantai Digelangi Rindu - Laila Ayu feat. Rizal Pahlevi
Syahdu malam berlagu sepi Mengiring rawan dalam taman hati Gelisah menanti kau kembali Manja menagih bujukan di sisi
Kerana desakan cintaku Dirantai digelangi rindu Sehinggakan diri sanggup Mengalah kepadamu
Dosamu ku anggapkan debu Bisa diterbang angin yang lalu Ku sedia memaafkan mu Biar aku berparut seribu
Asal sembuh lukamu Pahitku rasa madu Pulanglah oh kasihku Ku rayu kepadamu
Janganlah diturutkan mainan perasaan mu Serikanlah duniaku Yang semakin tandus dan gersang Dengan belaian senda gurauan mu Duhai sayang
Pulanglah oh kasihku Ku rayu kepadamu Janganlah diturutkan Mainan perasaan mu
Serikanlah duniaku Yang semakin tandus dan gersang Dengan belaian senda gurauan mu
Duhai sayang Oh pulanglah