Lagu Kusumaning Kalbu karya Ndikaa yang dibawakan oleh Safira Inema mengusung narasi tentang pengkhianatan cinta, patah hati, dan resolusi spiritual. Secara filosofis, karya ini menggambarkan transformasi batin seseorang yang menghadapi kekecewaan mendalam setelah pasangannya mengingkari janji setia demi orang lain. Latar belakang cerita berfokus pada konflik emosional antara rasa sakit akibat kecurangan (cidra) dan upaya untuk mencapai kepasrahan emosional. Nilai moral dan filosofis lagu ini terletak pada konsep lila lan legawa (ikhlas dan berlapang dada) serta keyakinan metafisika Jawa bahwa keadilan semesta tetap berlaku melalui hukum sebab-akibat (piwales) yang direpresentasikan lewat larik Gusti mboten nate sare (Tuhan tidak pernah tidur).
Lirik Kusumaning Kalbu – Safira Inema
Ing wanci ratri rembulan nedheng ndadari
(Di waktu malam, rembulan mulai bersinar)
Sumribiting angin reridhu ati
(Semilir angin membawa rindu di hati)
Ngelingake wewayangmu
(Mengingatkanku pada bayanganmu)
Duhh sayangku
(Duhai gadis cantik)
Kusumaning kalbuku
(Bunga di dalam hatiku)
REFF :
Endahing pasuryanmu
(Indahnya wajahmu)
Nentremke atiku
(Menenangkan hatiku)
Bebungah telenging rasaku
(Kebahagiaan terdalam dalam rasaku)
Mung siji panyuwunku
(Hanya satu permohonanku)
Marang sliramu
(Kepadamu)
Setya tuhu marang janji manis mu
(Setialah pada janji manismu)
Ning ngapa sliramu banjur tega cidra
(Namun mengapa kau tega berkhianat)
Sira katgudha tresna marang wong lia
(Kau tergoda cinta pada orang lain)
Apa salahku ngendi dununge luputku
(Apa salahku, di mana letak kesalahanku)
Janji setyamu wingi semu ono lathi
(Janji setiamu dulu kini hanya di bibir)
Nanging elinga piwales kui nyata
(Namun ingatlah, balasan itu nyata)
Gusti mboten nate sare
(Tuhan tidak pernah tidur)
Wus tak coba lila lan legawa
(Sudah kucoba ikhlas dan lapang dada)
Muga sira terus bagya Mulya
(Semoga kau selalu bahagia dan mulia)