Lyrics
Arga Arnold - Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung
Melayu

Lirik Lagu Arga Arnold - Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung

Lagu berjudul “Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung” yang dinyanyikan oleh Arga Arnold dan diciptakan oleh Anisa Fadila membawa narasi filosofis mengenai dekonstruksi serta pergeseran peran gender tradisional dalam institusi domestik akibat tuntutan realitas ekonomi. Secara semantik, metafora “tulang rusuk” yang merepresentasikan pasangan hidup berevolusi secara paksa menjadi “tulang punggung,” sebuah simbol beban pertanggungjawaban finansial utama dalam keluarga. Latar belakang cerita dalam karya musik ini menyoroti potret realisme sosial, di mana seorang istri harus mengambil alih kendali nafkah demi menjaga stabilitas dan kelangsungan hidup rumah tangga di tengah kondisi krisis atau ketidakpastian. Melalui pendekatan aransemen dan lirik yang lugas, karya ini tidak sekadar menggambarkan kepasrahan terhadap keadaan, melainkan menggarisbawahi nilai resiliensi, adaptabilitas, serta pengorbanan pragmatis dalam mengarungi dinamika kehidupan modern.

Lirik Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung – Arga Arnold

Hangatnya pelukan yang ku rasakan
Perlahan mulai jarang
Nyanyian pengatar tidurku
Tak lagi seperti dahulu
Walau sulit untukku terima
Semua telah berubah

Langkah canggung melewati waktu
Berlinang air mataku

Biasa ibu selalu ada menjaga kami dirumah
Kini tlah jarang bersua
Tubuh yang penuh peluh
Berat beban dipundakmu

Sedalam itukan luka yang diturihkan ayah
Dendamkah dihatimu
Semoga cepat berubah
Kita akan bahagia
Sabarlah wahai ibu

Tulang rusuk menjadi tulang punggung
Wahai ibu berat beban kau tanggung
Tulang rusuk menjadi tulang punggung
Wahai ibu berat beban kau tanggung

Tentang

Judul
Arga Arnold - Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung
Artis
Arga Arnold
Pencipta Lagu
Nama Channel
Arfa Arnold
Durasi Video
5.45
Tanggal Publikasi Video
4 Juli 2026
Bahasa/Genre
Melayu
Dokumentasi Teks Oleh
Best Lirik Lagu
The Best Author by Jihan Sabrina, Kanchi Salsabella, Putri Lestari, Yeni Febria, Budi Mahendra.